Celoteh dalam Saku

Kamis, Januari 12, 2012 Kun Ken 1 Comments


           Pagi siap berlari. Jam sibuk masih pemanasan. Menu pembuka tengah disantap. Menu sebelum beraktivitas namanya berhias. Dandan serempak walau tak janjian. Itulah yang biasa dilakukan manusia. Tidak ketinggalan lelaki berbadan gempal sedang pasang kemeja tumpal. Pikirnya, supaya tambah elegan menemani celana bahan. Suapan terakhir menu pembuka adalah mengambil pena lalu memasang di saku dadanya.
          “Hei..Who are you?” tanya Pena yang baru masuk saku dengan kepala menonjol keluar.
Amplop gemuk yang sedari tadi menyesaki saku kemeja menoleh “Saya Amplop. Anda siapa ya?” Amplop merapihkan posisinya yang dilipat dua dalam saku.
          “I am Pen. Yang paling berkuasa dan biasa ngetem disini,” angkuh Pena sambil menyilaukan warna peraknya pada Amplop. “Apa gerangan you berada di saku majikanku?”
          “Saya juga kagak tahu. Tugas saya cuma melayani aja,” Amplop mengangguk dan tersenyum seolah sedang menghadapi pelanggan.
          “Serve?”
           Amplop sedikit meniru gaya Pena. “Yes, bisa juga pelayan jasa.”
          “Maksudnya, melayani apa Envelope?”
          “Apa aja, sesuai pemilik saya dan apa yang dimasukan pada kantong saya,” Amplop menerangkan masih sambil senyum-senyum. “Karena saya diciptakan melayani maka sikap dan perkataan saya. Ya, Asal bapak senang” Tambah Amplop.
          Pena hanya nyengir tanpa bersuara menanggapi presentasi Amplop. Saat bersamaan saku sedikit bergoyang. Pena sedikit mengintip keluar saku. Sang majikan masuk mobil dinas mahalnya.
          “Boleh saya bertanya Mister Pen?”
          “Up to you.. Silakan,” Pena perak itu masih mengintip keluar saat ditanya Amplop.
          “Nampaknya anda bukan asli Indonesia, bicara selalu ada asingnya?”
           Pena sudah tidak mengintip keluar dan sedang bergerak ke posisinya. Posisi di pojok kanan saku dekat garis kancing kemeja. “You are right. Saya lahir di Swiss. Tapi lama di Inggris.”
          “Kok, anda bisa sampai Indonesia?”
          “Saya dibeli pejabat Indonesia ini di Inggris,” Pena menunjuk muka majikan yang berada di atasnya. Dari dalam saku terlihat dagu dan lubang hidung yang tertutup rimbunnya kumis.
           “Ngapain beliau di Inggris?” tanya Amplop yang masih memandang majikannya Pena.
           “Katanya sih studi banding alias kunjungan kerja.”
           “Oooh..” mulut Amplop membulat. Pelesiran kali ya batinnya menambahkan. “Sorry nih, berapa majikan ini membeli anda?”
           “500 Poundsterling.”
           “Wiiii…Kontan!” mata Amplop membelalak.
           “Yes..Spot Cash,” Pena membalas senyum dengan sisi bibir naik sebelah.
           Saku kembali bergoyang. Sekarang agak lama saku terombang-ambing. Pena yang tadi lepas tangan langsung berpegangan. Amplop pun setali tiga uang. Pena penasaran dengan keadaan. Ngintip lagi. Pena melihat sekeliling.
           Sudah akrab Pena melihat apa yang diintipnya sekarang. Gedung para wakil. Sedangkan, Amplop tengah berpikir keras menghitung perbandingan harganya dengan harga Mister Pen ini.
           “Boleh tanya lagi Mister Pen?” Amplop mengawali obrolan dalam saku yang masih goyang-goyang. Sepertinya pejabat ini berjalan terburu-buru sehingga langkahnya agak kurang berirama.
           “Yes..,“ Pena mengangguk.
           “Apa yang membuat anda bernilai dan berharga tinggi?”
           “Ow..Super Question!!” Pena sedang mengencangkan sabuk pengaman yang dikaitkan keluar saku merespon pertanyaan Amplop dengan semringah.
           “Thank you,” balas Amplop.
           “Pertama, Aku made in Swiss. Jadi, kualitas terjamin dan bikin gengsi tinggi. Kedua, Aku terbuat dari bahan pilihan yaitu perak asli dan diatas kepalaku ada benjolan biru berkilau alias  safir. Dan Ketiga, di dekat mata pena atau tempat jempol dan telunjuk menempel pada gagang ada ukiran indah bermotif dragon.
            “Wiiii..Keren!”
            Pena mengangguk sambil memejamkan mata dan tersenyum pongah.
Kantong Amplop yang gemuk bergerak-gerak bikin Amplop mengencangkan penutupnya. Pena yang melihatnya jadi penasaran.
            “Apa yang kamu bawa Envelope?”
            “Oh.. Ini,” Amplop menunjuk bagian gemuk sambil menepuknya. “Di dalamnya ada sepuluh lembar uang berwarna merah.”
            “Boleh Aku lihat?”
            “Wah, sudah di kunci. Gimana dong?”
            “Come on.. nanti you kunci lagi aja,” Pena memelas.
            “Baiklah.. Sebentar ya,” Amplop mengkendorkan perekat kantong lalu perlahan membukanya. Saat itu pula badai yang menerpa saku sudah reda.
             Ketika Amplop tengah sibuk membuka kantongnya. Pena memandang wajah majikannya. Terlihat mulut majikan komat-kamit membuat kumis di balkon atas bibirnya berayun-ayun. Kayaknya ada lawan bicara disana.
             Pena kembali pada Amplop. Kantongnya telah terbuka. Terlihat rombongan uang seratus ribu di dalamnya.  Mereka sedang tertidur karena memang belum saat bangun untuk beroperasi.
            “Whooooah,” Uang paling depan manguap tanda pemanasan bangun tidur. “Uwis nyampe to?”  matanya menyipit silau oleh sinar dari luar saku.
            “Belum mas,” balas Amplop.
            “Aya naon coy? Ekhhem.. ekheem..” Uang di baris kedua bangun dan suaranya agak serak. Dia Uang berlogat Sunda.
            “Ini ada yang mau kenalan. Mister Pen” Amplop menjelaskan dengan tenang agar yang lain tidak bangun.
            Dua lembar Uang bangun menyambut. Uang logat Jawa dan uang logat Sunda. Yang lain masih tidur di belakang.
           “Beta bukan Tuhan! bukan! bukan!” Uang logat Ambon mengigau dengan setengah berteriak. Kontan yang terjaga meliriknya dan tersenyum.
           “Sorry brother.. ngganggu tidurnya,” suara Pena untuk dua Uang yang sudah bangun.
           “Nggak apa-apa coy,” Uang logat sunda menyahut sambil membuat suara dengan peregangan tulangnya.
           “Ono opo ya?” tanya Uang logat Jawa.
           “Actually.. Aku cuma ingin tahu apa yang dibawa Amplop,” Pena menerangkan sambil nyender santai. “Tapi, karena you berdua bangun. Bolehlah tanya-tanya ya,” Pena menaik-turunkan alisnya.
           “Oh.. mangga kang. dengan senang hati,” balas Uang logat Sunda. Tangannya mempersilahkan.
           “Oke..saya Pena. Saya cuma pengen tanya. Dari mana dan mau kemana rombongan Uang ini?”
           “Beta bukan segalanya!! bukan! bukan!” kembali Uang logat Ambon mengigau. Kepalanya mengeleng-geleng tapi matanya masih tertutup. Teriaknya bikin kaget lagi yang terjaga.
           “Woi berisik woi” teriak Uang logat Jawa.
           Amplop langsung menyimpan telunjuk di mulutnya memberi tanda pada Uang logat Jawa agar diam juga.
           “Kami teh sebelumnya tidak saling kenal. Lalu kenalan aja. Kami ada dari Betawi, Sunda, Jawa, Batak, Ambon, Padang, Papua, Bugis, Bali, dan Madura” jawab Uang logat Sunda sambil melirik teman-temannya yang tidur.
           “Betul mas, Kami semua adalah perwakilan tiap daerah yang bertujuan untuk membangun negara tercinta ini. Iya to!” Uang logat Jawa menambahkan.
           “Sae pisan coy,” Uang logat Sunda mengangguk.
           “Oooh. So kalian ini dari rakyat. Seperti uang pajak untuk pembangunan negeri ya?” Pena mengira-ngira.
           “Tah eta salah satunya. Sae pisan coy,” Uang logat Sunda mengacungkan jempol tanda setuju atas pernyataan Pena.
           Uang logat Jawa mengangguk saja. Amplop masih mencerna obrolan mereka.
          “Tapi, sekarang kami tidak tahu mau dibawa kemana?” Amplop ikut bagian.
          “Benar..Sae pisan coy,” Uang logat Sunda lagi.
          “You semua juga akan tahu. Mau diapakan sebentar lagi,” ujar pena sambil tersenyum.
          “Sampean tahu sesuatu ya!” suara Uang logat Madura dibelakang. “Yo ayo kasih tahu kami,” mata Uang logat Madura agak melotot pada Pena.
           Semua yang tidak tidur di saku langsung melirik ke belakang. Uang logat Madura sepertinya sudah mengikuti obrolan sedari tadi.
           “Only prediksi,” jawab Pena. 
           “Prediksi apa mas?” Uang logat Jawa penasaran.
           Belum Pena menjelaskan tangan kanan raksasa meraihnya. Pena yang terangkat dari saku melambai sambil tersenyum aneh. Nanti kuberi tahu lebih jelasnya brother begitu kata pena sebelum terseret tangan dan lenyap dari pandangan dalam saku. Amplop dan Uang yang tadi melihat Pena sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi pada mereka dan apa yang akan diberitahukannya.
           Beberapa uang hendak mengintip keluar saku. Namun, tak satu pun sanggup karena jarak yang tinggi dan mereka dilipat dengan badan sebagian di dalam Amplop.
           “Itu dia mang Pepen coy!” canda Uang logat Sunda sambil menunjuk ke atas bahwa Pena perak mahal sudah kembali.
           Tangan raksasa masih membetulkan posisi Pena agar nyaman di Saku. Penghuni dalam saku melihat gerak-gerik tangan. Setelahnya tangan raksasa mengaduk-aduk saku mencoba meraih Amplop di dalam. Kontan Amplop sangat kaget dan langsung beres-beres agar Uang kembali dalam keadaan rapih. Penutup Amplop tidak keburu menempel lagi.
           Saat itu Pena berkata pada Amplop dan Uang yang sudah bangun semua dan  hanya terlihat kepalanya saja karena penutup tidak direkatkan. “Kalian adalah uang muka sogokan untuk tamu majikanku,” pelan Pena menerangkan kepada mereka yang sudah setengah terangkat dari saku.
          “Borokokok maneh!!” Uang logat Sunda mengumpat pada Pena.
          “Apa kata dunia? Kita uang sogokan. Mati kita dimakan tikus!” seru Uang logat Batak sambil memegang kepala.
           Uang-uang lainnya terlihat murung dan matanya berkaca-kaca. Ada juga yang masih melepaskan sumpah serapah karena perkataan gerah. Kalimat yang diucapkan Pena tadi telah membacok mulianya tujuan Uang-uang itu.
           Amplop menutup matanya. Dalam hatinya dia berkata, begini nasib Amplop yang cuma sekali pakai. Amplop bersedih, dalam kerja pertama dan terakhirnya itu dia gagal menjadi  pelayan jasa untuk hal baik dan bermanfaat.
           Mereka lenyap dari saku itu.
                                                                                                   ***

Uwis nyampe to = Sudah sampai ya
Aya naon = Ada apa
Sae Pisan = Bagus sekali

(Kun Ken, ketika April baru estafetkan waktu pada Mei dan langit senja Sumedang selalu bermake-up tebal warna abu-abu).


Alhamdulillah Cerpen ini adalah pemenang pertama Lomba Cerpen  tema "Indonesia Indah tanpa Korupsi" yang diselenggarakan oleh BREAK (Barisan Remaja Anti Korupsi) dan BEM KM IPB (divisi Kementrian Kebijakan Nasional).

Semoga mendapat manfaat...wallahu'alam.

1 komentar: