Hikmah Penelitian Keempat

Thursday, January 12, 2012 Kun Ken 0 Comments

            Sudah kali keempat  aku berganti Penelitian. Hampir ketiganya merupakan faktor lapangan—alesan, padahal faktor pribadi juga kalee.  Ya, penelitian keempat yang sudah terencana itu berhenti, padahal penelitian ini tadinya jadi andalan aku halah. Maksud hati tulisan ini untuk berbagi inspirasi dan hikmah dari fenomena penelitian.          “Wahh..aku Kaget!!!” gaya sule sambil mengangkat tangan setinggi leher layaknya takbiraturihram.
           Aku harap ekspresi yang keluar tidak seperti sule saat kaget  mendengar kisah ini. karena bisa saja dibelakang  anda Sang dalang sudah siap memasukan steropoem pada mulut yang menganga.  Penelitian ini berjudul  “Perilaku Anak Sebelum Dan Sesudah Melakukan Sodomi Di ……”  maaf untuk keamanan dan keselamatan penulis nama tempat dihilangkan hehehe.
           Fenomena  ini sudah diobrolkan dengan beberapa dosen yang kompeten di bidang masalah sosial dan penyimpangan seks terutama anak. Kala itu beberapa dosen dibuat kaget oleh ceritaku sayang aku lupa bawa stereopoem—haduh, maaf jadi OVJ mulu. Banyak pelajaran dan masukan dari dosen terkait fenomena tersebut.
          “Seperti apa.. fenomena yang terjadi?” suara khas insvestigasi selebritis sebelum iklan menunggu giliran.


           Mungkin fenomena orang tua menyodomi anak sudah terbiasa terdengar di media. Tapi, apa jadinya jika yang terjadi adalah sodomi/anal seks antar sesama anak sepermainan. Astagfirullah. Berawal dari pencarian klien ketiga untuk praktikum Mikro (pengembangan diri/konsultasi psikis) dari diskusi dengan warga eh malah masuk masalah ini. Aku sebenarnya salut dengan keinginan warga desa tempat penelitian untuk melakukan perubahan secara mandiri dengan tidak mengambil ranah hukum dan polisi.

           Ranah yang diambil adalah moderat. Bagaimana pihak korban tidak dirugikan begitu juga pihak lainnya. sebenarnya penelitian ini berisiko lho! Nggak boleh ketahuan media. Dosen juga menyarankan agar tidak melibatkan komnasham anak karena korban pasti tertekan dengan media dan segala pengikutnya. Bisa jadi tersangka.
           Semua pelaku (baca : anak) kami disana lebih enak/suka melabeli mereka dengan sebutan korban. Ya, walaupun dari penuturan semua informan akan menjurus pada satu tersangka atau inisiator pergerakan—maaf agak lebay.  Dengan alasan jika ada tersangka yang ditonjolkan akan banyak ketegangan dan tekanan baik di masyarakat maupun keluarganya.
          Dari obrolan bersama tokoh masyarakat, beberapa keluarga korban dan warga lainnya banyak informasi penting yang didapat walaupun belum sepenuhnya sampai pada hal spesifik yaitu perilaku anak.  Ya, obrolan jam 8 malam sampai jam 2 malam bikin pusing kepalaku apalagi suasana tempat yang prikitiew dinginnya. Obrolan itu antara lain;
          Pertama adalah faktor keteledoran orang tua. Dalam obrolan itu disampaikan adanya keteledoran orang tua menyimpan album ariel terbaru di Handphonenya lalu anaknya melihat album tersebut. Juga keteledoran dalam hal pengawasan dan pengelolaan kecendurungan sikap anak.
          Kedua adalah faktor teknologi. Siapa yang tak kaget—kaget lagi—jika anak SD bermain internet sampai pukul 3 malam. Potensi pornografi tentu bisa terjadi. Termasuk Handphone juga.
Ketiga adalah faktor ekonomi. Kebanyakan disana rumahnya berkamar satu dan dua. Mungkin saja anak yang sekamar bersama ortunya tidak sengaja melihat pembuatan album kompilasi.
Itulah obrolan singkat sebelum penelitian mendalam aku lakukan. Jika disimak banyak kasus lain juga. Mungkin bisa dikatakan anak2nya sodomi, remajanya nikah muda (nikah paksa oleh warga karena adanya  laki2(smp) “kecelakaan“ pada Perempuan(sma)),dan belum lagi istri muda (dari beberapa ortu yg anaknya korban sodomi) yang dikunjungi suaminya seminggu sekali. Weleh-weleh.
          Kembali ke korban. Korban yang teridentifikasi baru tujuh anak. Kenapa saya katakan “baru”. Ya, ini semacam teori gunung es hanya terlihat kecil puncaknya sedang besar dibawahnya. Mungkin pergerakan mereka—kaya politik waenya—di Sekolahnya, di daerah lain juga terjadi sehingga korban bisa saja lebih dari tujuh.
          Lalu apa yang membuat penelitian ini tutup akun. Begini ceritanya, sebulan lebih aku tidak kembali karena mengurus praktikum mikro tentang klien yang fobia nasi dan fobia sosial dan KRSan. Kondisi berubah dan semakin kompleks. Banyak fitnah terjadi baik masalah komunikasi dan hal tuduh menuduh tersangka—maklum ortu mana sih yang mau anaknya salah, walau salah pasi ortu membela—belum lagi pendidikan seks dan parenting ortu disana yang perlu dibenahi karena inilah penyebab melempemnya kekompakan mereka untuk membereskan kasus ini.
           Disana terjadi dua kubu. Satu kubu yang ingin adanya treatment dan satu kubu ogah-ogahan. Dan paling kuat adalah kubu ogah-ogahan. Kubu ini lebih suka membiarkan masalah karena nanti juga hilang sendiri, dan beberapa ortu korban juga ada yang bilang “alhamdulillah anak saya mah Cuma diginiin doank” parah ya. Masalah menjadi kompleks bukan hanya perilaku anaknya saja tapi masalah komunikasi warga, pendidikan dan pengasuhan ortu, kesadaran, konflik antar tokoh deelel. Bahkan beberapa tokoh mengundurkan diri dari jabatannya seperti ketua DKM. maklum beberapa tokoh masyarakat anaknya juga jadi korban sehingga niat baik manjadi konflik . tentu, bagi aku penelitian tak akan berjalan mulus karena yang dominan adalah kubu ogah-ogahan dan menjadi sangat sulit ketika semangat para pengubah keadaan yang buruk ikut menjadi buruk mungkin jika diteruskan penelitian akan meruncing konflik. Nggak enak dan resiko makin nambah.
           Begitulah fenomena yang telah membuat kaget saya, dosen dan mengkin anda. Semua terjadi karena korban keteledoran ortu, korban teknologi, dan korban lingkungan tak terjaga.
Kita tahu masa perkembangan anak adalah hal penting untuk mengajarkan hal bermanfaat dan melakukan pengawasan yang dinamis. Seperti tadi, jika anak melakukan sodomi dan ortu membiarkannya.  Maka, apa yang terjadi pada masa depan mereka? Bagiku Ini menyangkut akal bawah sadar yang menyimpan file-file apapun baik pikiran negatif maupun positif. Ketika anak beranjak dewasa lalu nafsu yang tidak terkelola dengan baik ingin melampiaskan sedang objek pelampiasan tak ada mungkin yang ada akan terjadi atau memakai KEKERASAN dari nafsu liar tersebut.
           Walaupun tidak jadi penelitiannya. Alhamdulillah terima kasih kepada dosen dan warga yang telah berbagi sehingga menambah pengalaman bermasyarakat, bagaimana bijak mengahadapi masalah, bagaimana pengasuhan/parenting yang bijak tanpa harus membuat anak merasa tertekan (dalam hal ini bertanya /berbagi bersama anak tanpa membuat anak merasa bersalah) dan hal bejibun hal lainnya
          Semoga jadi manfaat dan pelajaran berharga dari fenomena diatas. Dan semoga anak-anak indonesia dihindarkan dari hal-hal yang menjerumuskan masa depan mereka..amiin


Disana gunung, di sini gunung
Ditengah-tengahnya pulau sulawesi
Penulisnya bingung, pembacanya bingung
Yang penting judul penelitian ganti lagi
Opera van java!!
Yaaaaa hiks hiks….

Wallahu’alam…
                                                                                       ***
Kun Ken. (16 Februari 2011) Pelampiasan sebelum berangkat ke gudang Artileri Ilmu alias Perpus kampus untuk menambang bahan penelitian kelima.

0 comments: