Regresi Kesakralan Magrib

Kamis, Januari 12, 2012 Kun Ken 0 Comments

          Dirasakan atau tidak bagiku ada pergeseran aktivitas di masa kini khususnya masa magrib. Teringat kala senja ada salah satu budaya di kampungku Kuningan. Budaya yang mungkin saat kita kecil pernah merasakannya juga. Ya, kesakralan magrib sebutku masa itu. Bermula dari kebiasaan menjelang magrib ketika asyiknya anak-anak bermain tanpa deadline harus distop oleh kakak-kakak mereka seraya mengingatkan adanya pergantian pemain langit antara matahari dengan bulan. Kakak-kakak penjemput  seolah menjadi tugas mulia untuk menyelamatkan adiknya dari lupa waktu.

         Senja bergulir, babak sakral telah tiba. Masuk magrib biasanya akan ada “pesta” kesakralan untuk menyempatkan diri perform ketaatan. Ada pengajian anak-anak di rumah maupun mushala, begitu juga anggota kelurga di kediaman masing-masing. Masa sakral tersebut mampu mengalahkan TV mereka, Radio mereka, dan lainnya—mungkin ketika itu acara radio dan TV masih kurang menarik dan chanelnya cuma sedikit.  Kegiatan sakral penuh ketaatan bertahan hingga Isya.

         Turunnya level sakral magrib dapat dirasakan. Wow!! Anak-anak sebelum senja sudah dirumahnya masing-masing tanpa dijemput kakak-kakaknya. Sepertinya mereka sudah belajar tentang deadline dan menyempatkan diri.  Tapi, deadline dan menyempatkan diri ini bukan untuk kebiasaan keluarga dimanapun berada untuk sekedar ber”pesta”  sedia kala. Ibadah shalat mungkin terlaksana tapi rangkaian pesta usai sebelum rundown berjalan semua. Semua anggota keluarga seolah terhipnotis oleh satu mata berbentuk kotak dengan bejibunnya chanel dengan acara unggulan.
           Mega Sinetron yang mengulek-ngulek emosi, Drama Asia—biasanya koreaan, Nipu n Nipi yang betul-betul-betul, konyolnya kotak spon kuning, dan acara lainnya kini menggeser korden magrib dengan kesakralannya dan telah manghipnotis semua anggota keluarga. Sebelumnya juga yang memaksa mata murangkalih dan remaja kita adalah Narutho—dibaca sesuai makhraj ya. Saya pun pernah merasakan saat anak-anak gitu deh. Senja dulu yang menarik perhatian dengan Tsubasa Ozo lali—ehh Ozora.  Kegiatan ngaji yang rutin menjadi berlabel “engke heula” atau “engke wae”.

           Ini hanya soal kesempatan. Mungkin lebih tepatnya soal sempat—waktu luang—dan  sehat. Kalau kita bisa menyempatkan berjam-jam untuk suatu hal, kenapa yang lain dan  lebih manfaat tidak bisa. hiburan boleh saja tapi jangan berlebihan aja. Semua sikap yang dilakukan adalah pilihan masing-masing. Bijak mengelola waktu luang dan ketika sehat adalah pribadi yang beruntung. Jangan katakan sibuk dan menyalahkan tak ada waktu. Waktu selalu ada, sedangkan yang tidak ada adalah sikap dan mental menyempatkan diri.

.......
          Luangkanlah Sejenak detik dalam hidupmu
          Berikanlah rindumu pada denting waktu
          Luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
          Dan lihatlah warna kemesraan dan cinta
          (Letto; Sejenak)

          Wallahu'alam, semoga bermanfaat dan semoga kita bagian dari pribadi yang menyempatkan diri untuk kebaikan.

                                                                                         ***
Kun Ken , Ketika nyanyian letto berjudul Sejenak berduet dengan kicau burung pagi. dan sedang menyempatkan diri menulis untuk mengganti tidur ba’da Shubuh. (15 Februari 2011)

0 komentar: